Menstruasi sering kali hanya dianggap sebagai tamu bulanan yang merepotkan. Padahal, siklus ini adalah sistem biologis yang sangat kompleks dan menakjubkan yang terjadi dalam tubuh perempuan. Memahami setiap fase menstruasi, mulai dari menstruasi itu sendiri, fase folikuler, ovulasi, hingga fase luteal, bukan hanya soal kesuburan, tetapi juga tentang mengenali bagaimana hormon memengaruhi energi, suasana hati, hingga metabolisme kita.
Dengan mengenali siklus ini, kita bisa lebih “berteman” dengan tubuh dan mengoptimalkan aktivitas harian sesuai dengan ritme yang sedang kamu alami.
Apa itu Fase Menstruasi
Fase menstruasi merupakan urutan yang terjadi setiap bulan pada perempuan. Meskipun pada setiap perempuan memiliki fase yang berbeda, tapi pada dasarnya proses yang dilalui tetap sama. Fase ini umumnya diikuti dengan beberapa gejala seperti pusing, badan pegal, hingga berpengaruh pada suasana hati.
Berapa Lama Siklus Menstruasi Normal?
Meskipun setiap perempuan mengalami fase menstruasi, tapi ternyata tidak semua fase bisa dikatakan normal loh. Rata-rata siklus menstruasi pada perempuan adalah 28 hari. Tapi, ada juga yang berkisar 21 hingga 35 hari, hal itu masih normal.
Sedangkan siklus menstruasi yang tidak normal, bisa lebih dari 35 hari. Tidak sedikit perempuan yang mengalami menstruasi dalam kurun waktu tiga hingga enam bulan sekali. Hal tersebut sebaiknya segera untuk diperiksakan ke dokter untuk mencegah hal tidak diinginkan.
Empat Fase Menstruasi dan Perubahan di Tubuh

Dalam satu bulan, perempuan memiliki siklus dan perubahan hormon pada tubuhnya. Ada empat fase menstruasi yang terjadi, yaitu:
1. Fase Menstruasi
Fase menstruasi dimulai saat hari pertama menstruasi datang. Pada fase ini, dinding rahim luruh melalui vagina karena tidak adanya pembuahan. Hal inilah yang menyebabkan pendarahan. Umumnya pendarahan terjadi selama 3-9 hari, tergantung pada setiap perempuan.
Tidak hanya mengeluarkan darah saja, fase ini juga diikuti dengan gejala fisik yang cukup mengganggu seperti sakit kepala, kram perut, sakit punggung, mual, dan perubahan suasana hati.
2. Fase Folikular
Fase ini dihitung dari hari pertama menstruasi hingga memasuki masa ovulasi. Saat fase folikular berlangsung, hormon estrogen akan meningkat diikuti dengan tumbuh dan menebalnya lapisan dinding rahim atau endometrium.
Tak hanya itu, kelenjar pituitari di otak akan mengeluarkan hormon perangsang folikel yang disebut follicle stimulating hormone (FHS). Pada hari ke-10 hingga ke-14, hormon ini berfungsi sebagai perangsang untuk menghasilkan folikel yang membentuk sel telur yang matang.
3. Fase Ovulasi
Ovulasi merupakan fase saat sel telur matang dan siap dilepaskan dari ovarium untuk kemudian dibuahi. Fase ini terjadi karena dipicu meningkatnya hormon luteinizing secara tiba-tiba. Hal tersebut menyebabkan folikel pecah dan melepaskan sel telur ke tuba falopi.
Selama ovulasi, perempuan berada di puncak kesuburan. Hal ini adalah waktu yang tepat untuk terjadinya kehamilan. Fase ovulasi terjadi pada hari ke-14.
4. Fase Luteal
Pada hari ke-15 hingga ke-28, wanita memasuki fase luteal. Saat fase ini berlangsung, sel telur meninggalkan ovarium dan bergerak melalui tuba falopi menuju rahim. Kadar hormon progesteron akan meningkat dan membantu lapisan rahim dalam mempersiapkan kehamilan.
Apabila sel telur dibuahi sperma dan menempel pada dinding rahim atau implantasi, maka akan terjadi kehamilan. Jika tidak adanya kehamilan, maka kadar hormon estrogen dan progesteron akan menurun dan lapisan rahim akan kembali luruh dan terjadi pendarahan.
Pada wanita, fase ini juga disebut sebagai masa pramenstruasi. Oleh karena itu, saat fase ini terjadi akan muncul beberapa gejala seperti emosi tidak stabil, perubahan fisik, nyeri payudara, cepat lelah, perut kembung, dan pusing.
Bagaimana Cara Memantau Siklus Menstruasi?

Menstruasi merupakan proses saat dinding rahim meluruh dan menyebabkan pendarahan yang dapat berlangsung selama 3-10 hari. Meskipun siklus ini berbeda pada setiap perempuan, namun prosesnya sama dan bisa diprediksi dengan cara dihitung.
Supaya hitungannya tepat, catatlah hari pertama haid setiap bulannya. Kemudian, hitung jumlah hari pertama haid bulan ini dengan bulan berikutnya. Misalnya, kamu haid pada 30 Maret dan pada bulan berikutnya mulai pada tanggal 23 April. Maka siklus menstruasi kamu adalah 25 hari.
Kapan Harus Khawatir dengan Siklus Menstruasi?
Tidak semua perempuan mengalami siklus yang baik. Ada beberapa hal yang perlu dikhawatirkan, seperti:
- Belum mengalami menstruasi hingga usia 16 tahun
- Tidak mengalami menstruasi selama tiga bulan atau lebih
- Mengalami pendarahan lebih daripada biasanya
- Pendarahan yang dialami lebih ringan atau lebih berat dari biasanya
- Merasa mual setelah menggunakan tampon
- Terlambat menstruasi hingga lima hari
- Belum menstruasi selama tiga bulan setelah berhenti minum pil KB
Jika kamu mengalami beberapa hal seperti di atas, sebaiknya segera periksakan ke dokter.
Bagaimana Siklus Berubah Seiring Waktu?

Siklus menstruasi pada perempuan akan selalu berubah dari remaja hingga usia 40-an. Saat pertama kali menstruasi, siklus yang berjalan akan lebih panjang dan aliran darah lebih deras, itu merupakan hal yang normal. Untuk remaja yang baru saja mengalami menstruasi, akan memakan waktu kurang lebih tiga tahun hingga siklus menstruasi menjadi normal. Siklus yang normal terjadi setiap 21 hingga 35 hari dan pendarahan selama tiga hingga tujuh hari.
Memasuki usia 20-an, siklus menstruasi akan menjadi lebih konsisten dan teratur. Namun, saat memasuki usia menopause, periode menstruasi akan berubah menjadi tidak teratur. Selain usia, setelah melahirkan atau saat sedang menyusui, siklus menstruasi juga berlangsung tidak teratur.
Penuhi Asupan Nutrisi Harian Lengkap dengan Vitameal
Fase menstruasi yang dialami oleh perempuan memengaruhi suasana hati bahkan metabolisme tubuh. Tidak sedikit perempuan tiba-tiba akan merasa sangat lapar bahkan kenyang. Di saat seperti ini penting untuk mengontrol diri supaya tidak makan berlebihan menuruti rasa lapar. Untuk mencegah asupan makan yang berlebih, cobalah konsumsi Vitameal.
Vitameal merupakan sereal sehat yang mendukung asupan nutrisi harian lengkap. Dengan kandungan serat yang tinggi, membuat kenyang lebih lama. Tentunya hal ini akan mencegah mengonsumsi makanan secara berlebihan. Tak hanya itu, Vitameal berbeda dengan sereal pada umumnya. Vitameal hadir dengan rasa yang enak dan segar yang berasal dari mix berries.
Selain melengkapi nutrisi harian, rutin mengonsumsi Vitameal juga dapat membantu menjaga kesehatan tubuh. Vitameal berperan dalam mengontrol gula darah, kolesterol, hingga membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Tunggu apalagi, yuk coba Vitameal sekarang!
Berikut ini infografis artikel 4 Fase Menstruasi: Kenali Hormon yang Memengaruhi Suasana Hati Wanita








