Pentingnya Cek Gula Darah Rutin Untuk Cegah Komplikasi Diabetes & Obesitas

Menjaga kesehatan adalah prioritas utama, terutama dalam era modern ini di mana gaya hidup dan pola makan seringkali memengaruhi kondisi kesehatan kita.

Salah satu langkah penting dalam memonitor kesehatan adalah dengan melakukan cek gula darah rutin. Pemeriksaan ini tidak hanya penting bagi mereka yang sudah didiagnosis dengan diabetes, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin memastikan kadar gula darahnya tetap dalam batas normal. 

Dengan cek gula darah rutin, kita dapat mendeteksi dini berbagai potensi masalah kesehatan, mengelola kondisi yang ada dengan lebih efektif, dan mencegah komplikasi serius yang mungkin timbul di masa depan. Artikel ini akan membahas berbagai jenis tes gula darah, manfaatnya.

Apa Itu Gula Darah?

Gula darah adalah glukosa yang terdapat dalam aliran darah kita. Dalam dunia medis, ini dikenal sebagai glukosa darah (Blood Glucose). Glukosa ini berasal dari makanan yang kita konsumsi dan merupakan sumber energi utama bagi tubuh. Untuk mencapai seluruh sel tubuh, glukosa dialirkan melalui pembuluh darah.

Glukosa darah merupakan indikator penting dari kesehatan seseorang dan harus dijaga kadarnya pada tingkat yang normal.

Kadar gula darah adalah jumlah glukosa dalam darah. Meskipun kadarnya dapat berubah-ubah, gula darah harus dijaga dalam batas normal untuk mencegah gangguan kesehatan.

Kadar gula darah dipengaruhi oleh asupan nutrisi dari makanan atau minuman, terutama karbohidrat, serta jumlah insulin dan kepekaan sel-sel tubuh terhadap insulin.

Kadar gula darah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat berdampak buruk bagi kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Oleh karena itu sangat penting untuk cek gula darah rutin.

Apa yang Terjadi Jika Kadar Gula Darah Tinggi?

Cek Gula Darah Rutin

Kadar gula darah dianggap terlalu tinggi jika melebihi 200 mg/dL. Kondisi ini disebut hiperglikemia dalam istilah medis.

Baca Juga: 7 Cara Mengelola Stres Agar Berat Badan Tidak Naik, Dan Badan Tetap Ideal Dengan Vitameal

Hiperglikemia terjadi ketika tubuh kekurangan insulin, hormon yang diproduksi oleh pankreas untuk mengalirkan gula dari darah ke sel-sel tubuh agar bisa diubah menjadi energi.

Selain itu, gula darah tinggi juga dapat terjadi jika sel-sel tubuh tidak responsif terhadap insulin, sehingga gula dalam darah tidak bisa masuk ke sel untuk diolah.

Penderita diabetes sering mengalami gula darah tinggi jika tidak menjaga pola hidup sehat, seperti makan berlebihan, kurang berolahraga, atau lupa mengonsumsi obat diabetes atau insulin. Stres, infeksi, dan obat-obatan tertentu juga bisa memicu kenaikan gula darah pada penderita diabetes.

Orang tanpa diabetes juga bisa mengalami hiperglikemia, terutama jika sedang sakit berat. Gejala kadar gula darah tinggi meliputi kelelahan, nafsu makan tinggi, penurunan berat badan, sering merasa haus, dan sering buang air kecil.

Jika kadar gula darah mencapai 350 mg/dL atau lebih, gejala yang muncul bisa berupa rasa haus yang berlebihan, penglihatan kabur, pusing, gelisah, dan penurunan kesadaran. Selain itu, kulit bisa menjadi merah, kering, dan terasa panas.

Jika tidak segera ditangani, kadar gula darah yang sangat tinggi bisa menyebabkan ketoasidosis diabetik atau sindrom hiperglikemi hiperosmolar, yang dapat berakibat fatal.

Selain itu, kadar gula darah tinggi yang tidak ditangani dalam jangka panjang bisa meningkatkan risiko infeksi gigi dan gusi, masalah kulit, osteoporosis, gagal ginjal, kerusakan saraf, kebutaan, serta penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah).

Apa Yang Terjadi Jika Kadar Gula Darah Terlalu Rendah?

Cek Gula Darah Rutin

Kadar gula darah dianggap terlalu rendah atau hipoglikemia jika berada di bawah 70 mg/dL. Kondisi ini sering dialami oleh penderita diabetes sebagai efek samping dari obat antidiabetes yang mereka konsumsi, terutama insulin yang dapat menurunkan kadar gula darah secara berlebihan.

Pada penderita diabetes tipe 1, tubuh tidak menghasilkan cukup hormon insulin sehingga membutuhkan tambahan insulin dari luar, biasanya melalui suntikan. Namun, dosis insulin yang terlalu tinggi bisa menyebabkan penurunan drastis pada gula darah.

Hipoglikemia pada penderita diabetes dapat terjadi jika insulin atau obat antidiabetes tidak diimbangi dengan asupan makanan yang cukup, atau akibat olahraga yang berlebihan.

Orang tanpa diabetes juga bisa mengalami hipoglikemia. Beberapa penyebabnya antara lain:

  • Konsumsi alkohol berlebihan.
  • Penyakit tertentu seperti hepatitis, anoreksia nervosa, atau insulinoma.
  • Kekurangan hormon tertentu.
  • Penggunaan obat-obatan tertentu seperti quinine.
  • Mengonsumsi obat antidiabetes milik orang lain secara tidak sengaja.

Gejala gula darah rendah meliputi tubuh yang terasa lemas, lapar, keringat dingin, kulit pucat, jantung berdebar, kesemutan di sekitar mulut, gelisah, dan mudah marah.

Jika kadar gula darah turun di bawah 40 mg/dL, gejala yang muncul bisa lebih parah, seperti:

  • Bicara melantur
  • Sulit berkonsentrasi
  • Tidak mampu berdiri atau berjalan
  • Otot berkedut
  • Kejang

Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa menyebabkan stroke, koma, atau bahkan kematian.

Cek Gula Darah Rutin untuk Mencegah Komplikasi Diabetes & Obesitas

Cek Gula Darah Rutin

Cek gula darah rutin adalah prosedur penting untuk mendeteksi dini dan mencegah penyakit diabetes serta obesitas. Hal ini sangat penting bagi penderita diabetes dan obesitas untuk membantu mengendalikan gejala dan memantau kadar gula darah mereka.

Tujuan utama dari cek gula darah rutin adalah untuk mencegah komplikasi yang bisa berbahaya bagi tubuh akibat diabetes atau obesitas. Untuk mendapatkan hasil yang menyeluruh, penderita diabetes dan obesitas harus melakukan cek gula darah rutin sesuai dengan jenis dan waktu yang tepat.

Pentingnya Cek Gula Darah Rutin bagi Penderita Diabetes dan Obesitas

Cek gula darah rutin adalah prosedur yang dilakukan untuk memeriksa kadar glukosa atau gula dalam darah. Pemeriksaan ini berguna untuk mendiagnosis dan mengontrol penyakit yang berkaitan dengan kadar gula darah tinggi, seperti diabetes dan obesitas.

Beberapa alasan penting untuk melakukan cek gula darah rutin antara lain:

  • Membantu mendiagnosis diabetes dan obesitas.
  • Mengevaluasi pencapaian tujuan pengobatan secara keseluruhan.
  • Memantau efek obat antidiabetes pada kadar glukosa.
  • Memantau kondisi gula darah untuk mengurangi risiko komplikasi serius.
  • Mengetahui pengaruh diet, pola makan, dan aktivitas fisik terhadap kadar gula darah.

Macam-Macam Tes Cek Gula Darah Rutin

Cek gula darah rutin bervariasi berdasarkan waktu pengambilan sampel dan metode pengukurannya. Berikut adalah beberapa jenis cek gula darah rutin yang bisa dilakukan:

1. Tes Gula Darah Sewaktu (GDS)

Tes ini dapat dilakukan kapan saja tanpa memperhatikan waktu makan terakhir. Biasanya digunakan jika kamu menunjukkan gejala diabetes seperti sering buang air kecil atau kehausan ekstrem. Hasil tes di bawah 200 mg/dL menunjukkan kadar gula normal. Menurut Centers for Disease Control (CDC), hasil 200 mg/dL (11.1 mmol/L) atau lebih tinggi menunjukkan diabetes.

2. Tes Gula Darah Puasa

Dilakukan setelah berpuasa semalaman (sekitar 8 jam) sebagai tindak lanjut dari tes GDS. Ini adalah metode efektif untuk mengukur kadar gula darah. Kategori hasilnya adalah:

  • Normal: kurang dari 100 mg/dL (5,6 mmol/L).
  • Prediabetes: antara 100 dan 125 mg/dL (5,6 sampai 6,9 mmol/L).
  • Diabetes: 126 mg/dL (7 mmol/L) atau lebih.

Prediabetes adalah kondisi ketika kadar gula darah lebih tinggi dari normal, namun belum mencapai tingkat diabetes. Jika tidak ada perubahan gaya hidup, risiko terkena diabetes melitus meningkat.

3. Tes Gula Darah Postprandial

Dilakukan 2 jam setelah makan setelah berpuasa sebelumnya. Jeda ini diperlukan karena kadar glukosa meningkat setelah makan dan insulin akan menormalkan kadar gula darah. kamu harus berpuasa selama 12 jam, makan normal dengan 75 gram karbohidrat, dan kemudian beristirahat hingga tes dilakukan. Hasilnya adalah:

  • Normal: kurang dari 140 mg/dL (7.8 mmol/L).
  • Diabetes: 180 mg/dL atau lebih.

4. Tes Toleransi Glukosa Oral (OGTT)

Dilakukan 2 jam setelah mengonsumsi 75 gram cairan glukosa. kamu harus berpuasa selama 8 jam sebelum tes. Ada juga versi tes ini yang mengambil sampel darah 1 jam setelah minum cairan glukosa dan lagi 2 jam setelahnya. Ini memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan tes puasa namun biayanya lebih mahal. Kategori hasilnya adalah:

  • Normal: kurang dari 140 mg/dL (7.8 mmol/L).
  • Prediabetes: 140-199 mg/dL (7.8 sampai 11 mmol/L).
  • Diabetes: 200 mg/dL atau lebih.

Tes ini biasanya digunakan untuk mendiagnosis diabetes gestasional pada ibu hamil, dengan sampel darah diambil setiap 2-3 jam. Jika 2 atau lebih hasil tes menunjukkan kadar gula darah dalam kategori diabetes, kamu didiagnosis diabetes.

5. Tes HbA1c

Tes ini mengukur gula darah jangka panjang dengan melihat persentase gula darah yang terikat dengan hemoglobin. Hasil tes menunjukkan rata-rata kadar gula darah selama beberapa bulan terakhir. Hasilnya adalah:

  • Diabetes: 6,5% atau lebih pada lebih dari satu tes.
  • Prediabetes: 5,7-6,4%.
  • Normal: kurang dari 5,7%.

Tes HbA1c juga digunakan untuk memantau gula darah secara rutin setelah diagnosis diabetes melitus. Tes ini mungkin tidak valid untuk diagnosis diabetes melitus pada wanita hamil atau orang dengan variasi hemoglobin.

Itulah penjelasan mengenai alasan untuk selalu cek gula darah rutin. Selain memantau kadar gula darah, juga dapat mencegah diabetes yang semakin parah.

Yuk konsumsi vitameal untuk mencegah gula darah tinggi, vitameal sereal sehat kaya nutrisi yang bermanfaat untuk mengontrol gula darah agar tetap normal.

Tinggalkan komentar

Index